.quickedit{ display:none; }

Selasa, 10 Mei 2011

menjadi Seorang Gay Di Indonesia : Kisah Nyata

Kesaksian : Bagaimana Menjadi Seorang gay di Indonesia - based on Queer As Folks Movie

The Joy of Gay Sex, 
Revised & Expanded Third EditionKetika aku melihat serial Queer as Folks (bagi yang belum tahu, itu serial drama tentang dunia gay), perhatianku langsung tertuju pada sosok imut Michael yang naif dan sedikit munafik. Buatku dia begitu sempurna, sosok ideal seorang bottom idaman.
Berhubung aku terobsesi dengannya, mulailah aku membanding-bandingkan pasanganku yang sudah 6 tahun hidup serumah dengannya. Hasilnya? yaa...beda-beda tipis lah.Tapi banyakan samanya.hehehe...Sama-sama kecil,imut,manis,dan sedikit naif serta munafik.Tak terbayangkan aku berpasangan dengan sosok Michael dalam dunia nyata. Lalu aku mulai sadar, kalo sosok Michael, meski beda-beda tipis aja ada di dunia nyata,l ha yang menjadi sosok Brian siapa?Pasti ada donk.Berikut dengan Emmet dan Ted.

So,mulailah aku mencari-cari si “Brian”,langkah awal,aku mencarinya di depan cermin dalam kamar tidurku.Hasilnya?Cakep (ini agak narzis),Tinggi (ini kenyataan),Sexy (ini beyond narzis),dan banyak penggemar (ini kurang sadar diri kaya'nya).
Banyak Penggemar?Mulailah aku menghitung dengan jemariku,siapa saja mereka,bahkan jemari kakipun ikut jadi sasaran.Dan ketika aku merasa tak sepopuler si “Brian”,mulailah aku melakukan berbagai macam cara untuk tebar pesona dan tebar profile lewat jasa dunia maya.

The Big Gay MusicalTernyata,diluar sana tidak sedikit yang melakukan hal sama denganku,entah dengan alasan apapun.Yang jelas kita akhirnya saling bertukar nomor dan saling kontak berikut berlanjut dengan jumpa darat.Sejenak aku lupa akan keberadaan “Michael”ku dirumah.Parah...memang aku nih.
Lha,waktu ketemu dengan mereka-mereka itu,kita bertukar pengalaman dan cerita.Ternyata banyak kisah tentang mereka dan ke-gay-annya yang kalau dibuat cerita bersambung gak bakal selesai,bahkan serial “tersanjung” bakal kalah panjangnya.Tapi aku cukup menikmatinya,meski ada susah,sedih,sakit,luka dan lain-lain,tapi juga ada senang,seru,gairah,kejutan dan kemeriahan disana-sini yang menyertai.Sejenak ku lupa akan tujuanku mencari (atau lebih tepatnya menjadi) sosok si “Brian”.Yang aku alami ternyata nano-nano.Diluar yang aku harapkan.

Is It Just Me?Tiba-tiba,suatu hari aku pulang kerumah,kudapati “Michael”ku muram,mencak-mencak karena aku sering menelantarkan dia dan cuek,karena sibuk berpetualang.Semua kata kecut,pedas,dan pahit (gak ada manisnya blas), keluar dari mulutnya,sama sekali jauh dari sosok imut seorang “Michael”.Akupun jengkel setengah mati.Tapi setelah beberapa hari merenung,aku menyadari bahwa mungkin aku memang seorang “Brian”,begitu juga puluhan bahkan ratusan gay diluar sana.Tapi bukan sosok “Brian” dalam sisi yang positif,melainkan sosok yang tak punya perasaan dan tak sadar suka menyakiti perasaan orang lain.Tak mudah puas dengan apa yang sudah dimiliki.

Akhirnya aku menulis cerita ini,ternyata menjadi gay tuh gampang-gampang susah.
Gampang banget terpengaruh ama serial film,karena kebanyakan kita tuh lebih sensitif dari pada cowok straight pada umumnya.Sehingga kadang lupa berpikir kalo kita ini hidup dalam dunia nyata,bukannya dalam film.Dan susah,susahnya setengah mati menyadari dan menerima kenyataan kalo aku tuh bukan “Brian” yang di film tersebut.

Tapi,juga menyenangkan,mengingat perjalananku bertemu dengan kaum sehati yang lain.Dan begitu banyak cerita yang ikut mewarnainya.Sekaligus juga dengan adanya pasanganku yang paling kucinta.So aku memutuskan bahwa meskipun aku bukan “Brian”,Setidaknya aku tetap seorang gay,yang seharusnya bangga dan hidup seperti apa adanya dalam dunia nyata.Yang jauh lebih berwarna dan penuh cerita dari pada serial film manapun.Karena yang membuat plot cerita adalah Tuhan Y.M.E dan bukanlah seorang manusia biasa.

2 komentar: